Tag Archive: perjalanan


Panahan dan Firasat Saya

Wartawan Manuntung, Aan R Gustam yang meliputi kegiatan Olimpiade Seoul yang berlangung sejak tanggal 17 September higga 2 Oktober, kembali ke tanah air bersama kontingen Olimpiade Indonesia pada Tanggal 5 Oktober lalu. Berikut ini ia menuliskan kesan-kesannya selama tiga minggu berada di negeri ginseng itu, Tulisannya kami muat bersambung . Selamat mengikuti.

Malam tanggal 1 Oktober itu satu firasat bahwa para pemanah beregu putri akan mampu medali, muncul sangat kuat di hati saya. Selesai membuat laporan tentang kegagalan pemanah Nurfitriyana pada nomor perorangan di kantor telek di pusat Kota Seoul, keyakinan tentang medali itu saya sampaikan kepada beberapa rekan wartawan. Bahkan sampai dua kali.

Saya tidak tahu persis, apakah firasat medali itu merupakan suatu bentuk kamuflase dari perasaan saya karena hanya panahan beregu putri itulah satu-satunya cabang olahraga yang masih tersisa yang akan di ikuti oleh atlet Indonesia. 26 atlet yang terjun dalam 10 cabang olahraga lainnya di olimpiade Seoul itu, dalam pertandingan di hari-hari sebelumnya memang telah berguguran.

Ketiga srikandi Indonesia itu, Lilies Handayani, Nurfitriyana dan Kusuma Wardhani merupakan harapan akhir. Di nomor tunggal yang berlangsung sejak 27 September, ketiga pemanah putri itu masing-masing telah tersingkir.

Namun firasat medali tersebut sesungguhnya mencuat bukan tanpa alasan sama sekali. Penampilan ketiga pemanah andalan Indonesia itu pada babak perorangan, telah menyisakan suatu keyakinan yang mendalam pada hati saya.

Lilies, si hitam manis dari Jawa Timur, meskipun tersisih pada babak awal, tapi dia sebenarnya punya kemampuan prestasi meyakinkan. Bukan saja mampu meraih dua medali emas dan perak di Singapura Agustus lalu, tapi ia juga adalah pemegang rekornas untuk nomor perorangan jarak 30 meter.

Kusuma wardhani, kelahiran Ujungpandang gagal melangkah kesemifinal pada nomor perorangan di Seoul hanya disebabkan selisih satu angka dengan pemanah putrid Uni Sovyet. Sementara Nurfitriyana dari Jakarta yang maju ke semifinal tapi gagal ke final, juga disebabkan selisih satu angka dengan pemanah tuan rumah, Korsel dan pemanah Jerman Barat yang masing-masing berada  di urutan ke 7 dan 8 – jumlah pemanah yang berhak ke final.

Menyimak kembali prestasi mereka pada nomor tunggal itulah yang agaknya membuat terbentuknya suatu keyakinan

Selain itu, sebelumnya mereka memang telah masuk lima besar di semifinal.

Dengan kenyataan itu saya mengambil kesimpulan lebih optimis, bahwa hanya factor lucky saja lagi yang belum menyentuh mereka. Dan firasat saya terus mendesak-desak dada saya seakan mengatakan, keberuntungan segera tiba.

Di motel Hang Woon Jang, tempat saya menginap selama meliputi olimpiade di Seoul, pada malam 1 Oktober itu saya sungguh-sungguh tidak bisa tidur nyeyak. Saya gelisah dan tidak sabar menunggu agar pagi hari segera tiba. Saya ingin cepat-cepat berangkat ke Hwarang Archery Field- tempat diselenggarakannya pertandingan memanah untuk menyaksikan srikandi Indonesia bertanding.

Pertandingan pada sabtu, 1 Oktober itu dimulai pada jam 10.45 waktu setempat untuk babak semifinal dan pukul 4.45 untuk babak final. Tapi pukul 17.30 saya sudah bangun – yang berarti malam itu saya hanya sempat tidur sekitar 3 jam.

Saya memang harus cepat-cepat berkemas, karena daerah Hwarang, sebelah utara Kota Seoul, tempat berlangsungnya pertandingan jaraknya cukup jauh dari tempat saya menginap, yaitu sekitar 30 kilometer. Dan saya benar-benar ingin menyaksikan pertandingan sejak awal. Tiket masuk pun sudah saya pesan sebelumnya.

Karena itu pula, saya menolak mentah-mentah ketika pagi itu seorang rekan wartawan mengajak saya ke Kedutaan Besar Indonesia untuk menghadiri acara peringatan Kesaktian Pancasila. Sekali lagi, pada rekan wartawan itu saya utarakan perasaan saya bahwa saya punya firasat Indonesia akan segera mendapat medali hari ini. “Perasaan saya kuat sekali. Minimal kita akan dapat perunggu hari ini” kata saya.

Pukul 08.00 pagi yang masih terasa dingin, karena suhu yang 16 derajat Celsius, saya sudahmeninggalkan penginapan. Pertama saya harus naik kereta api bawah tanah yang makan waktu setengah jam lebih. Kemudian disambung dengan naik bis kota, juga makan waktu setengah jam. Sebelum  sampai ke lokasi pertandingan, setelah turun ke bis, terlebih dahulu harus berjalan kaki lagi  sejauh 1,5 kilometer. Saya memperkirakan sudah akan sampai ke lokasi 45 menit sebelum pertandingan dimulai.

Tapi hari itu agaknya sial sekali bagi saya. Karena tergesa-gesa dan sepanjang jalan benak dijejali dengan angan-angan medali, saya ternyata menuju pintu masuk lokasi yang keliru.

Tapi sebenarnya bukan melulu kekeliruan saya, Para petugas polisi yang menjaga pintu masuk lokasi, juga saya anggap ikut andil dalam kekeliruan saya.

Ketika saya melintas memasuki pintu gerbang lokasi, 3 orang polisi lalu lintas dan 3 polisi biasa yang berjaga-jaga di depan tidak menegur saya. Saya sebenarnya heran juga, kenapa pintu masuk lokasi di bagian utara ini sepi sekali. (untuk menyaksikan pertandingan panahan sebelumnya, biasanya saya masuk lewat pintu Selatan).

Sekitar 150 meter berjalan kaki dua orang petugas berpakaian pereman menyongsong saya dari balik semak-semak sembari menenteng walky talky. Agaknya mereka hanya pandai berbahasa Korea. Karena itu salah seorang di antaranya memberi isyarat agar saya berhenti dengan melambaikan tangan.

Saya menghampiri mereka dan bertanya, apakah jalan ini benar menuju ke lokasi panahan. Pertanyaan itu saya ulang dua kali dan petugas itu agaknya menangkap kalimat archery dalam pertanyaan saya. Secara berbarengan kedua petugas itu menjawab yes…yes. Dan mereka membiarkan saya terus berlalu, tanpa menanyakan sesuatu lebih jauh lagi.

Kira-kira 100 meter kemudian saya sampai pada pintu gerbang yang dijaga sangat ketat, lengkap dengan pos. sekitar 10 0rang petugas polisi dan tentara bersenjata pistol dan senjata panjang menghadang saya. Saya agak gugup juga.

Tapi dengan sikap tenang, saya langsung menuju pos penjagaan dan bertanya, apakah ini jalan yang menuju ke tempat pertandingan penahan. Tiga petugas bersenjata panjang yang saya Tanya tida menjawab tapi mengurung saya dan member isyarat agar saya menunggu sebentar, sementara salah seorang petugas lainnya berlari-lari menjemput petugas lainnya.

Agaknya, petugas yang di jemput inilah yang paham bahasa Inggris. Petugas yang mengenakan pakaian dinas abu-abu dan berbaret hijau dengan pistol terselip di pinggang – mungkin komandannya – ternyata sangat ramah. Pertama dia menanyakan saya dari Negara mana. Kemudian dengan keramahan yang wajar dia mengatakan bahwa jalan yang saya tempuh benar menuju ke tempat pertandingan panahan. Tapi jalan yang saya lewati tersebut ternyata jalan khusus untuk para atlet dan panitia serta pejabat lainnya.

Perwira itu kemudian meminta saya untuk kembali. “Anda kembali  keluar dan belok kiri. Sekitar 300 meter ada simpangan dan Anda ke kiri lagi. Sekitar 200 meter dari sana ada pintu masuk untuk umum” katanya.

Setelah minta maaf berkali-kali saya segera kembali. Tapi perwira yang baik itu kembali mengejar saya, untuk mengingatkan saya bahwa saya harus dua kali belok kiri.

Disebabkan keliru pintu masuk lokasi itulah yang membuat saya tiba di tempat pertandingan hanya beberapa menit sebelum pertandingan dimulai. Yang saya cemaskan pun muncul juga. Tempat duduk habis terisi. Padahal lebih dari itu, saya juga menginginkan tempat duduk tepat di belakang para pemanah putrid Indonesia.

Tapi dengan berbagai akal dan cara, akhinya saya dapat juga duduk agak di belakang para srikandi Indonesia. Antara panggung penonton dan atlet yang bertanding dibatasi pagar dengan jarak sekitar 30 meter.

Untuk menyaksikan pertandingan dengan cermat saya tak tanggung tanggung membawa perlengkapan. Selain membawa tele lensa, saya juga membawa telescopy yang sebelumnya saya beli di Pasar Myongdong dengan harga 7.000 won atau sekitar Rp 16.000. Dengan kedua alat itulah saya mengamati pertandingan.

Tepat pukul 10.45 anak panah para peserta mulai meleset dari busur masing-masing. (Bersambung)

            Untuk pertama kalinya, harian Pagi Manuntung, satu-satunya Koran pagi pertama di Kaltim memberangkatkan wartawannya ke luar negeri, dalam rangka meliputi pesta olahraga terbesar  dunia, Olimpiade Seoul. Wartawan yang diberangkatkan itu adalah Aan Reamur Gustam yang selama ini di kenal sebagai Redaktur  Pelaksana Harian Pagi Manuntung di Balikpapan.

            Aan, 38 tahun kemarin siang bertolak dari Bandar Udara Sepinggan Balikpapan menuju Bandar Udara Juanda Surabaya. Dari Surabaya, ia akan terus ke Jakarta untuk bergabung bersama beberapa wartawa Indonesia lainnya, yang seterusnya bertolak ke Seoul, Korea Selatan 9 September mendatang.

            Menurut rencana, Aan berada di Seoul selama lebih kurang tiga minggu, atau selama berlangsungnya peristiwa akbar Olimpiade yang dimulai dari 17 September – Oktober 1988, Selama itu pula, ia akan terus mengirim laporan khusus mengenal kegiatan pesta olahraga tersebut.