TIAP hari keluyuran di Kota Seoul untuk keperluan meliputi olimpiade, sewaktu-waktu bisa kesasar di kesibukan kota metropolitan bukanlah hal  aneh, meski sangat menjengkelkan. Ada 23 cabang olahraga yang dipertandingkan dan tempatnya tersebar di 15 lokasi yang tempatnya saling berjauhan. Sebagian bisa di jangkau dengan kereta api bawah tanah, sebagian harus dengan bis kota, atau kalau mau cepat dengan resiko biaya mahal boleh juga naik taksi. Hari-hari yang menjengkelkan itu adalah pada minggu-minggu pertama, sebelum dimulainya olimpiade.

Di seoul, nama-nama jalan, pertokoan atau perkantoran tidak menggunakan tulisan latin, kecuali hotel-hotel Internasional. Mereka masih tetap setia memakai huruf hangul yang  merupakan huruf tradisional bangsa korea.

Dalam rangka Olimpiade, pemerintah setempat tampaknya berusaha memecahkan kesulitan itu dengan membikin petunjuk arah jalan dan lokasi daerah tertentu yang di gantung di beberapa bagian kota. Petunjuk arah jalan dan lokasi daerah tertentu yang di gantung di beberapa bagian kota. Petunjuk arah tersebut ditulis dalam bahasa Inggris dan sebagian juga masih di campur dengan memakai huruf hangul.

Tapi petunjuk tersebut tidak begitu banyak membantu, karena hanya terdapat di dalam kota. Di subway (stasiun kereta api bawah tanah) atau di persimpangan jalan tertentu panitia Olimpiade juga menempatkan pos-pos darurat. Sementara di lokasi-lokasi tempat pertandingan didirikan pos informasi. Brosur dan peta mengenai kota Seoul, lengkap dengan lokasi tempat pertandingan dilangsungkan disebar di tiap-tiap pos dan hotel.

Pemerintah Seoul agaknya telah menyiapkan olimpiade serapi mungkin. Terkesan, hamper seluruh lapisan masyarakat dilibatkan untuk membantu orang asing, terutama dalam hal memberikan Informasi kepada siapa saja. Kesulitan satu-satunya hanyalah factor komunikasi, karena rata-rata masyarakat seoul sangat payah pengertian bahasa Inggris yang pasaran sekalipun.

Namun ternyata disinilah seni dan keunikannya berhubungan dengan mereka. Tidak bisa berkomunikasi dengan baik ternyata malah lebih memudahkan bila kita meminta bantuan. Orang Korea yang sekilas terlihat kasar kenyataannya sangat ramah dan baik hati.

Setiba di Seoul, saya bersama dua rekan wartawan dari Surabaya dan seseorang dari Manado telah menerima informasi bahwa hotel-hotel telah menerima informasi bahwa hotel-hotel telah penuh terisi dan yang tersisa hanyalah motel, atau di Korea biasa di sebut yogwan. Tapi yogwan-yogwan ini juga sebagian besar telah terisi, terutama yang berdekatan dengan lokasi pertandingan.

Setelah satu malam menginap di yogwan yang jauh di pinggiran kota, keesokan harinya saya bersama seorang rekan dari Jawa Pos berusaha mencari yogwan yang strategis. Tapi bagaimana bisa tahu yang namanya yogwan, karena semua tulisan memakai huruf hangul?.

Dua orang polisi yang sedang patrol di sepanjang di sepanjang trotoar kami minta bantuannya untuk menunjukkan yogwan. Kedua polisi ini tidak paham bahasa inggris, kecual mengerti kata-kata yogwan yang kami ulang berkali-kali. Mereka ternyata tidak hanya sekedar menunjukkan tempatnya, tapi meminta kami mengikutinya. Bahkan mereka pula yang berhubungan dengan pemilik penginapan menanyakan persediaan kamar.

 

Tiga buah yogwan yang kami datangi ternyata penuh semua. Dibawah hujan rintik-rintik kedua polisi it uterus berusaha membantu, sampai akhirnya bertemu dengan yogwan yang pemiliknya sedikit mengerti bahasa inggris. Untungnya lagi, pemilik yogwan tersebut juga baik hati. Ia setuju satu-satunya kamar yang tersisa kami isi 4 orang dengan harga 25.000 won / malam atau Rp.57.500

MENJALIN PERSAHABATAN  

            Keramahan dan kebaikan hati

Masyarakat Seoul memang sangat bersahaja. Yang paling berkesan adalah bantuan  yang mereka berikan ketika saya mencari alamat rekan seorang mahasiswi Korea untuk mengantarkan oleh-oleh seorang rekan wartawan di tanah air. Alamat yang saya bawa ditulis dengan bahasa latin. Setengah hari enuh penuh berkeliling baru alamat yang dimaksud ditemukan. Itu pun setelah seorang pedagang pakaian jadi yang bisa membaca latin menyalin alamat tersebut ke dalam tulisan hangul.

            Saya diantar secara beranting oleh beberapa orang. Mulanya dua orang suami istri yang saya temui di jalan. Istrinya dia minta menunggu di sebuah toko, sementara dia mengantar saya kesebuah toko obat dan menitipkan saya agar dibantu. Pedagang obat tersebut membawa saya berjalan dan menyerahkan lagi pada temannya. Sampai akhirnya bertemu seorang pria bersepeda yang tampaknya seorang pedagang sayur. Lelaki bersepeda inilah yang mengantar saya ke tempat tujuan, sekaligus memanggilkan taksi dan menjelaskan pada sopir mengenai alamat yang di tuju.

            Sifat suka menolong orang lain terkesan menonjol sekali. Suatu ketika saya pulang agak malam setelah mengirim berita ke tanah air. Didalam kereta api bawah tanah, seorang pria yang mabuk mengganggu saya dengan sikap kasar sambil ngoceh tidak karuan. Beberapa penumpang di depan dan samping saya tidak enak melihat kejadian itu. Seorang lelaki berusaha menegor pemabuk itu tapi tak di indahkan.

            Seorang pria setengah umur tiba-tiba berdiri dan menghardik pemuda yang terus-terusan ngoceh di depan saya dan menariknya menjauh. Di stasiun berikutnya pemuda mabuk itu di suruh turun. Pria setengah umur tersebut mendekati saya dan disertai senyuman yang berucap. “I am sorry, I am sorry. Where you come from…?”

            Melihat pemandangan lelaki mabuk setelah pulang kerja di Seoul adalah hal yang biasa. Dalam keadaan sepoyongan, jas biasanya hanya di pegangi dan dasi sudah tidak terikat dengan baik lagi. Sepanjang jala biasanya mereka berteriak-teriak atau menyanyi.

     Pertegkaran sengit di pinggir jalan atau dalam bis sering pula terjadi. Setidaknya saya tiga kali memerogoki mereka bertengkar. Tapi tak pernah sampai terjadi baku hantam. Paling seru pernah terjadi di dalam bis. Saya menduga akan segera menyaksikan perkelahian yang seru, tapi tidak terjadi. Pertengkaran mereda begitu sja. Kabarnya, tiap perkelahian akan di usut, siapa yang lebih dahulu memukul dan bisa menerima hukuman lebih berat. Mungkin itu pula sebabnya tak ada yang mau memukul lebih dahulu.

            Saya yang tak terbiasa minum-minuman keras, agak susah juga meneruskannya ketenggorokan. Ternyata isi gelas tak boleh dihabiskan. Tuan Min minta kami mengisinya kembali untuk dia dan para stafnya.

            “Nah, sekarang kita semua menjadi sahabat  yang baik” kata tuan Min setelah menghabiskan Soju dalam gelas. Ia juga menjelaskan, begitulah caranya orang korea menjalin persahabatan dengan orang baru.

            Seoul adalah kota metropolitan yang sibuk sepanjang hari dan tak acuh. Semua tampak serba tergesa-gesa, terbirit-birit. Hampir tak ada orang yang berjalan lambat. Semua mengejar waktu, mengejar kereta api bawah tanah, mengejar bis kota –mengejar efisiensi.

Kotanya yang bersih dan teratur rapid an masyarakatnya yang tertib dengan disiplin tinggi, bisa membuat orang asing jadi rendah diri. “Saya belum puas kalau tidak melihat orang berjalan memakai sandal disini” gurauan seorang rekan wartawan.

            Demonstrasi – melampiaskan ketidak puasan apa saja – boleh terjadi setiap hari  bahkan sampai malam. Tapi semuanya dilampiaskan dengan tertib. Saya pernah terheran-heran menyaksikan seorang pengendara mobil membentak-bentak polisi lalu lintas yang menilangnya, sambil berkacak pinggang. Pengendara itu tampaknya tak merasa bersalah. Dan polentas itu tampaknya tidak begitu risau diperlakukan seperti itu.

Iklan