TIGA minggu berada di Seoul, baru hari terakhir saya bisa mengunjungi Mesjid central Seoul di Daerah Han Nam-Dong, tidak jauh dari pasar kakilima Itaewon yang terkenal ramai. Sebenarnya saya sudah menjadwalkan akan ikut bersembahyang Jumat pada tanggal 30 September, tapi disebabkan kesibukan meliputi olimpiade, baru tanggal 4 Oktober sehari sebelum kembali ke tanah air, saya bisa menjejakkan kaki di masjid yang cukup megah itu.

Masjid Central Seoul terletak di atas tanah berbukit, dikelilingi perumahan penduduk dan pasar kelontongan. Berlantai dua dengan kapasitas 1.000 jema’ah, Masjid Central Seoul dibangun pada tahun 1976 di atas tanah seluas 5.000 meter persegi. Areal tersebut merupakan sumbangan dari Presiden Korsel (ketika itu) mendiang Park Jung Hee.

Sore itu saya tiba di Masjid Central Seoul persis pasa saat sembahyang Asyar. Di ruang depan tampak lenggang. Lewat pintu ang sedikit terbuka, di sudut kanan ruangan, seorang wanita Korea terlihat sedang mengambil wudhu. Saya terus nyelonong ke ruang tengah yang agaknya merupakan ruang rapat atau istrahat.

Setelah mengucapkan salam, saya memperkenalkan diri kepada seorang pemuda yang sedang membongkar-bongkar tas nya diatas meja. Ketika ia tahu bahwa saya berasal dari Indonesia, pemuda itu riang sekali. “Saya dari Malaysia, kalau begitu kita bicara bahasa melayu saja” katanya makin riang.

Pemuda itu bernama Yusri binti Muhammad, salah satu dari 90 orng mahasiswa Malaysia yang mendapat tugas belajar di Korsel oleh pemerintahnya. Pemuda berumur 19 tahun ini baru 6 bulan berada di Seoul. Ia mengambil jurusan mesin. Tapi selama satu tahun ia harus belajar bahasa korea dulu.

“Sebab buku-buku pelajaran disini semua ditulis dalam bahasa nasional Korea” cerita Yusri.

Setelah Sembahyang Asyar, yusri mempertemukan saya dengan Ustadz Abdussamad yang berkumis dan berjenggot lebat ini kemudian memperkenalkan saya kepada H. Abdul Rasyid, juga seorang ustadz di Korea Selatan yang berasal dari Thailand bagian selatan.

Ustadz Abdul Rasyid yang juga berusia 42 tahun, maupun ustad Abdussamad ternyata lancer berbahasa Indonesia, Arab, Korea dan Inggris. Abdul Rasyid sebenarnya menjadi imam masjid di Masjid Kwang-ju yang jaraknya hanya 40 kilometer dari Seoul. Tapi hari itu kebetulan ia ada keperluan di Masjid central Seoul.

Di Korea Selatan terdapat 5 buah Masjid besar dan 4 buah masjid yang hanya temporer sifatnya. Kelima masjid besar itu tersebar di-lima daerah. Masjid central di Seoul di Seoul, Masjid Busan Al-Fatah di pusan (400km dari Seoul), Masjid Abu-Bakar Al-Sidiq di Chonju (225 Km dari Seoul), Masjid Kwang Ju (40 Km dari Seoul) dan Masjid Anyang Ravita di Anyang (30 Km dari Seoul).

Dari kelima Masjid besar Di Korsel, Masjid Anyang Ravita adalah satu-satunya tempat ibadah yang dibangun oleh Tokoh Islam Korea, yaitu Yoo, seorang aktivis muslim di Negara itu, Yoo Chang Shik yang kini berganti nama menjadi Imam Hussen membeli tanah untuk membangun masjid di Anyang.

Di areal yang dibeli Imam Hussen tersebut kebetulan pula ada gereja yang tidak dipergunakan lagi. Maka dengan biaya sebesar 50 juta won atau sekitar Rp. 115 juta, pada tahun 1986 Imam Hussen merombak Gereja tersebut menjadi Masjid. Masjid itu kemudian di beri nama Ravita oleh International Muslim Federation yang berkedudukan di Arab Saudi.

Imam Hussen sendiri hingga kini menetap di Anyang dan menjadi imam Masjid. Ia dan saudaranya sangat gigih menyebarkan ajaran Agama Islam di daerah tersebut. Menurut brosur yang dikeluarkan oleh KMF (Korea Muslim Federation) pada bulan Juni lalu. Di Anyang baru tercatat 44 orang Islam.

Seluruh umat muslim di Korea selatan yang berpenduduk 40 juta lebih itu, menurut regestrasi terakhir berjumlah 32. 423 orang. Penganut terbesar berada di Seoul, ibukota Korsel dengan jumlah 24.483 orang. Sedang sisanya tersebar di beberapa tempat seperti di Pusan, Kwang –Ju, Jeon-Ju dan lain-lain.

Untuk lebih memperdalam Ilmu agama, KMF juga mengirimkan Mahasiswa-mahasiswa muslimnya untuk belajar di Beberapa Negara yang lebih maju peradaban Islamnya. Mahasiswa muslim Korea paling banyak justru di Indonesia, yaitu 16 orang, terdiri dari 12 Lelaki dan 4 Wanita. Sementara di Arab Saudi hanya 12 orang dan Malaysia 7 Sebagian lagi tersebar di Maroko, Pakistan, Libia dan beberapa Negara Timur Tengah lainnya.

Islam mulai masuk ke Korea pada bulan September 1955, dua tahun setelah usainya perang saudara yang mengakibatkan terbelah duanya Negara itu. Dua orang anggota pasukan Turki bernama Imam Abdul Rahman dan Zuber Kochi saat itu menetap cukup lama disana. Kedua imam ini dengan sabar menyebarkan Islam dan membentuk kelompok masyarakat muslim Korea yang diberi nama “Organized The Muslim Society in Korea”. 12 Tahun kemudian atau pada Maret 1967 berubah menjadi KMF yang secara Resmi diakui oleh Pemerintah Korea.

 

Rintisan kedua imam dari Turki ini kini dilanjutkan oleh 5 orang da’I yang terus berda’wah di Korea Selatan. Mereka adalah Dr. Abdul Wahab Jahid dari Syria, Abdussmad dari Singapura, Abdul Rasyid dari Thailand, Musthopa juga dari Thailand dan Imam Hussen yang merupakan putra Korea Sendiri. Kegiatan da’wah mereka di Program langsung oleh Darul Ifta yang berpusat di Arab Saudi.

Ustadz Abdussamad yang ternyata jebolan Pesantren Gontor Ponorogo Jawa Tengah tahun 1977 mengatakan, tugas utamanya kini adalah meningkatkan  pelajaran agama dan Bahasa Arab. Dalam memberikan kursus-kursus ia dibantu oleh aktivis muda muslim Korea bernama Usman Sun dan Sulaeman Lee. Kursus keagamaan paling singkat dilakukan selama 3 bulan.

“Dari seluruh peserta, 80% di antaranya umumnya tertarik masuk Islam” kata Abdussamad. Bahasa Arab merupakan Faktor utama yang harus dipelajari bagi pemeluk agama Islam, terutama bagi kepentingan shalat dan lainnya justru di sini sedikit menemui hambatan, karena masyarakat Korea umumnya tidak begitu tertarik mempelajari bahasa asing.

“Dari 100 yang berhasil kita yakinkan, hanya 40 % yang bertahan, sisanya jarang mau hadir lagi” cerita Abdussamad lagi.

Karena itu, para mahasiswa Korea yang belajar bahasa Arab di Universitas Miung-Ji dan Hang-Guk yang berjumlah 1500 orang sering dimamfaatkan tenaganya untuk da’wah. Sebagian mahasiswa yang belajar bahasa Arab ini juga ada yang tertarik masuk Islam. Mereka langsung dibina secara Intensif untuk kelancaran da’wah.

Bagaimana melakukan pembinaan terhadap muslim korea di Negara yang masih asing dengan Islam itu?. Pada mulanya, alamat rumah tiap para pemeluk di catat dengan cermat. Ini dimaksudkan agar mudah menghubungi mereka untuk pendalaman ilmu agama.

“Tapi disebabkan sebagian rmah yang mereka tinggali adalah rumah sewa dan mereka pindah ke tempat lain, maka kami sering kehilangan jejak” kata Abdussamad. Untuk lebih memudahkan, maka bukan hanya alamat rumah yang di catat, tapi juga Kantor atau pabrik tempat mereka bekerja. “Bila diketahui mereka sudah pindah rumah kami akan menghubungi mereka di tempat kerja” cerita abdussamad lagi. Silahturahmi memang terus dipupuk.

Islamisme di Korea tidak melulu hanya di ajarkan pada orang dewasa tapi lebih intensif lagi terhadap anak-anak. Pada hari minggu dibuka kelas khusus bagi anak-anak yang berumur di bawah 12 tahun. Mereka diberi pelajaran Islam secara mendasar. Antara lain pembacaan Al-quran, mempelajari tafsir dan hadis, lagu-lagu qasidah dan lain-lain dalam bentuk studi grup.

“Mereka ini kami harapkan nantinya akan menjadi generasi penerus” kata Abdussamad.

Selama berlangsungnya olimpiade, da’wah tertulis juga gigih disebarluaskan. World Assembly Of Muslim Youth (WAMY) yang berpusat di Riyadh membantu membikin ribuan brosur yang kemudian  diperbanyak oleh KMF. Brosur tersebut  dicetat dalam dua bahasa, yaitu Inggris dan Korea. Di lipatan depan brosur berwarna biru muda yang disebarkan di berbagai tempat keramaian itu di tulis huruf kapital Islam at a Glance.    

 

Iklan