BERLAGA di kejuaraan olahraga akbar seperti di olimpiade, atlet-atlet kita begitu kecil disbanding atlet-atlet dari Negara lain yang begitu perkasa. Olimpiade bukan saja untuk mengukur dan mencoba ketangguhan prestasi bagi tiap atlet. Tapi lebih dari itu adalah untuk mengukirkan prestise itu, setelah 36 tahun kita mengikuti olimpiade.

Di Olimpiade Seoul, dari 29 atlet Indonesia yang bertanding di 11 cabang olahraga hanya ada beberapa atlet yang bisa dicatat mampu unjukgigi dalam persaingan yang begitu keras. Sebagian besar atlet lainnya benar-benar hanya mampu memenuhi target, yaitu sekedar mencari pengalaman internasional.

Dari segelintir yang bisa dicatat, selain putrid panahan bisa disebut nama-nama seperti Dirdja Wihardja dan I Nyoman Sudarma (angkat besi) serta Mardi Lestari (lari 100 meter).

Nyoman Sudarma asal Bali yang bertanding di kelas 75 kg berhasil menempatkan dirinya di urutan 10 besar dunia. Di Seoul, ia juga berhasil memecahkan rekor nasional dengan total angkatan 320 Kg. Rekor lama atas namanya sendiri hanya 302,5 Kg.

Sebelumnya Nyoman hanya menduduki rangking ke 11. Tapi terbongkarnya kasus doping di cabang angkat besi menjadikan posisi Nyoman naik. Urutan ke 4 di kelas Nyoman tersebut semula di tempati leh lifter Hungaria, Kalman Osengeri, namun dalam test doping Kalman terbukti menggunakan obat perangsang. Posisinya dicopot dan dengan demikian posisi Nyoman jadi naik.

Demikian pula yang teradi di kelas 56 Kg yang di ikuti oleh lifter Didja Wihardja. Pemegang emas di kelas Dirdja tersebut adalah lifter Bulgaria, Mitko Grablev dengan total angkatan 297,5 Kg. Dirdja, mahasiswa STIE Jakarta berada di urutan ke 5 dengan total angkatan 255 Kg.

Seperti juga Ben Johnson, sprinter dari Kanada, Mitko Grablev dipaksa menyerahkan medali emasnya, setelah ia terbukti menggunakan doping. Rangking Dirdja pun praktis naik di urutan ke 4.

Untuk Asia, posisi Dirdja di urutan 4 sudah cukup memuaskan. Sebab juara di kelas 56 Kg tersebut di tempati Lifter Uni Sovyet, Oxen Mirzoian, setelah terbongkarnya kasus Grablev. Sedang juara dua dan tiga di tempati lifter dari RR cina. Mengamati posisi di atas, Dirdja sudah termasuk 3 besar di Asia.

Meski demikian harus pula di akui Dirdja Wihardja masih jauh ketinggalan dengan dua lifter Cina itu, yang mampu mengangkat barbell masing-masing seberat 267,5 Kg- yang berarti 12,5 Kg di atas Dirdja.

Sebenarnya ada 5 lifter yang diterjunkan ke Olimpiade Seoul. Tapi 3 lifter lainnya, Sodikin (52 Kg), Yon Haryono (56 Kg) dan Catur Mei Studi (60 Kg) tidak bisa berbuat banyak. Bahkan Catur Mei mengalami cidera urat pinggang ketika berusaha mengangkat barbell seberat 110 Kg. Dia diharuskan beristirahat panjang.

Sementara itu, pelari tercepat andalan Indonesia, Mardi Lestari dalam cabang atletik lari 100 meter, juga tercatat sebagai salah seorang atlet yang mampu bersaing di Seoul. Memang tak seorang pun yang berharap lebih banyak terhadap pelari asal Jambi ini misalnya menggondol medali. Tapi dengan keberhasilannya maju ke semi final, setelah melalui dua putaran, itu merupakan prestasi dan kebanggaan tersendiri.

Disemifinal Mardi antara lain bersama-sama dengan Carl lewis (AS) dan Calvin Smith (Inggris), dua pelari tercepat dunia di Samping Ben Johnson. Pokoknya, di semifinal itu Mardi-lah satu-satunya pelari berkulit coklat dengan postur paling kecil, lawan-lawannya semuanya berkulit hitam dengan otot-otot yang menonjol.

“Mana mungkin saya bisa bersaing dengan mereka” kata Mardi yang hanya berada di urutan ke 6 dari 7 pelari pada putaran semifinal itu. Toh, di Seoul Mardi mampu mempertahankan rekor nasional atas namanya sendiri yang di ciptakannya di  jerman Barat  dengan catatan 10, 32 detik pada bulan Agustus. CUMA BEGITU”

Sebenarnya masih ada cabang-cabang lain yang diharapkan mampu mengukir prestasi optimal. Misalnya Tinju, gulat dan Layar. Eddy Sulistianto dan Abdul Malik bukanlah atlet kemarin sore di cabang layar. Prestasi Internasional mereka boleh di banggakan selama ini, setidaknya untuk ukuran Asia.

Eddy, adalah pemegang medali emas di SEA GAMES tahun 1983 dan 1985. Bersama Malik, ia sudah pernah ke Pusan- tempat diselenggarakannya pertandingan selama Olimpiade Seoul. Pertama pada kejuaraan Asian Games 1986. Seperti dikatakan pelatih mereka, Binsar kepada saya, kedua anak asuhannya itu sudah tidak asing lagi dengan situasi Pusan, kota pelabuhan yang merupakan kota terbesar kedua setelah Seoul.

Kedua atlet layar ini bahkan berangkat ke Korsel satu minggu lebih awal dari kontingen, untuk berlatih di Pusan. Hasilnya, dalam beberapa kelas yang dipertandingkan selama 7 hari sejak 20 September, mereka jauh di Urutan bawah. Negara-negara Eropa memang merajai dalam cabang layar ini.

Di cabang tinju, Adrianus Taroreh (ringan) dan Ilham Lahia (bulu) ternyata hanya sempat turun satu kali. Adrianus rontok di tangan petinju Inggris, sementara Ilham dipecundangi petinju Gabon.

Begitu juga dengan dua pegulat yang sama-sama berasal dari Kalimantan, Suryadi dan Surya Saputra. Menyaksikan mereka bertanding, saya sendiri hampir tidak percaya, “kok cuma sebegitu saja Kemampuan Atlet Indonesia.”. Surya dan Suryadi seperti baru belajar gulat.

Karena lawan-lawan pertama yang mengalahkan mereka adalah pegulat dari Asia, saya sendiri sering bertanya-tanya pada diri sendiri: Bagaimana dengan target Asia, yng sering digembar-gemborkan itu?.

Tiap atlet Indonesia yang merasa gagal dalam pertandingan, umunya punya alasan yang sama bila menjawab pertanyaan wartawan. Yaitu tidak punya pengalaman bertanding di luar negeri atau kalah pengalaman. “Bagaimana bisa berprestasi kalau selama ini hanya di simpan saja” kata seorang atlet.

Nada kecewa seperti itu juga dilontarkan petenis Yayuk Basuki. Petenis asal Yogyakarta ini juga amblas pada babak awal di tangan petenis Prancis, Suire Catherine. Demikian dengan pasangan ganda terkuat Wailan Walalangi/Suharyadi.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan Atlet Indonesia di Seoul, tujuan  mencari pengalaman internasional sudah terpenuhi. Setidaknya bagi Waylan/Suryadi. “Andai saja kami banyak punya kesempatan bisa bermain dengan pasangan kuat seperti ini, pasti bisa maju juga” kata Wailan.

Pasangan kuat yang dimaksud Wailan adalah petenis ganda nomor satu Amerika Serikat, Kent Flach/Robert Seguso yang mengalahkan mereka di babak awal.

“Tidak usah jauh-jauh, bisa berlatih di Korsel selama setahun saja, rasanya kita bisa jadi juga” kata pegulat Surya Saputra yang asal Kalsel. Surya sangat merasa kagum dengan para pegulat negeri ginseng yang dinilainya cukup tangguh.

Menurut penilaian, Surya Saputra maupun Suryadi yang berasal dari Samarinda, Pegulat-pegulat Korsel telah menjadi Ancaman serius bagi Para Pegulat Asia.

Iklan