ADA 1 regu dari 12 negara yang tampil di babak semifinal pagi itu. Yaitu Indonesia, Korea Selatan, Jerman barat, Inggris, Amerika Serikat, Swedia, RRC, Uni Sovyet, Mongolia, Prancis, Polandia dan Cina Taiwan.

Pada jarak 70 meter yang dilangsungkan sebanyak 3 ronde, dimana tiap regu masing-masing melepaskan 9 anak panah, ketiga srikandi Indonesia benar-benar kedodoran. Sampai ronde terakhir jarak 70 meter ini nama Ina (kependekan dari Indonesia) tidak  muncul di antara regu 8 besar, pada papan pencatat angka. Pelatih panahan, Donald Pandiangan saya lihat tenang saja, sementara saya mulai kegelisah di antara penonton Korea yang bertepuk riuh mendukung regunya.

Pada jarak 60 meter ronde pertama, Indonesia masi juga belum masuk 8 besar yang bakal maju ke final. Baru pada ronde kedua tulisan Ina muncu di urutan 7 besar, menggeser regu Cina Taiwan. Dan pada akhir ronde ketiga srikandi itu makin melejit dengan menduduki urutan kelima, menggeser Polandia yang anjlok ke urutan 8.

Yang sangat mengesankan saya adalah ketenangan yang luar biasa dari dari ketiga pemanah putri tersebut. Pada saat membidik sasaran maupun saat kembali ke tempat duduk, setelah menyaksikan perhitungan angka, Lilies Nurfitriyana dan Kusuma Wardhani kelihatan tenang sekali. Saya melihat mereka hamper tak punya beban. Bahkan Lilies sesekali masih sempat menggumbar senyuman.

Di ronde kedua jarak 50 meter rangking ketiga pemanah itu makin melejit, yaitu diurutan ke-4 ini tetap mampu mereka mempertahankan hingga selesai pada jarak 30 meter. Lewat telescop saya melihat ketiga srikandi Indonesia tersenyum riang. Pandiangan juga berwajah cerah. Dan perasaan saya semakin mantap. Mereka masuk final. “Selangkah lagi” bisik saya pada diri sendiri.

Kedelapan regu yang masuk final tersebut adalah Korsel (point -1000), AS (989), Sovyet (978), Indonesia (975), Inggris jerbar (953), Prancis (950) dan Swedia (949).

Sejak ronde awal tuan rumah Korea Selatan lewat tiga pemanah putrinya Kim Nyung Sook, Wang Hee Kyung dan Yun Yong Soo yang masing-masing masih duduk di bangku SLTA, terus terusan mendominasi di urutan pertama tanpa pernah tergeser. Bahkan dengan selisih angka yang cukup jauh dengan regu lainnya.

Pada saat Regu Indonesia msuk final, hanya saya dan dua wartawan Indonesia lainnya yang menyaksikan. Seluruh ofisial dan atlet siang itu masih berada di Kedutaan Besar Indonesia, menghadiri upacara hari kesaktian Pancasila. Kabar masuk final itu cepat tersiar dan menjelang sore hari beberapa wartawan Indonesia berdatangan ke Hwarang. Juga ketua kontingen, Wiek Djatmika.

Pertandingan semifinal berakhir sekitar pukul 01.00. Meskipun  babak final dilangsungkan lebih tiga jam lagi, tapi saya memilih beristrahat di Hwarang.

Lokasi tempat diselenggarakannya panahan adalah suatu areal yang luas, dikelilingi pohon-pohon Vinus yang rindang. Di belakang pepohonan vinus berjejer bukit yang menghijau. Sekitar lima buah gedung bertingkat di areal panahan itu juga ikut membantu menjinakkan hembusan angin.

Belakangan, baru saya tahu kalau di puncak-puncak gedung bertingkat itu ditempatkan beberapa orang penembak jitu dengan senjata berat. Saya berpaspasan dengan regu tembak yang mengawasi seluruh sudut Hwarang itu ketika hendak pulang, seusai pertandingan.

Babak final yang dimulai sore hari diawali dengan jarak 30 meter. Di ronde pertama Korsel tetap unggul  dengan nilai 86, Indonesia membuntuti dengan nilai 85 dan Jerman di urutan ketiga dengan nilai 84. Tapi di ronde kedua dan ketiga srikandi Indonesia membuat kejutan dan membikin geger penonton korea yang fanatic. Mereka menggeser Korsel yang hanya mendapat nilai 171 ke urutan kedua, sementara Indonesia berada diatas dengan nilai 172. Di ronde akhir jarak 30 meter, ketiga srikandi itu memperoleh nilai 259 dan korsel 258. Urutan ketiga ditempati Amerika Serikat dengan nilai 253.

Tapi pada jarak 50 meter, Indonesia yang tampaknya hanya kuata pada jarak pendek, kembali digusut tuan rumah. Dari jarak 50 sampai 70 meter ronde terakhir urutan tiga besar tetap dipegang Korsel, Indonesia dan AS. Namun nilai Indonesia dan AS pada ronde akhir tersebut ternyata sama, yaitu 952. Karena itu harus dilakukan Shoot off antara Indonesia dan AS untuk menentukan regu terbaik.

Sekali lagi, pada saat-saat genting seperti itu ketiga srikandi kita memperlihatkan ketenangannya. Sementara saya sendiri bisa bernafas lega, sebab minimal perunggu sudah dalam tangan. Meski demikian saya terus berdoa agar dalam pertarungan tambahan menentukan itu regu Indonesia tampil dengan baik.

Penonton yang sebagian besar terdiri dari orang Korea ternyata memihak pada ketiga pemanah Putri Indonesia. “Indonesia, Indonesia” teriak mereka sambil mengibarkan bendera Korea, pada saat keenam pemanah mulai membidik.

Begitulah keberuntungan ternyata telah memihak pada ketiga Srikandi kita. Dalam tanding ulang mereka mendapat nilai lebih baik. Regu As sial, karena salah satu dari anak panah dari tiga yang dilepas ternyata meleset ke samping dan jatuh di tanah.

RESEP PANDIANGAN

Sukses ketiga pemanah Indonesia, lilies handayani, Nur fitriyana dan Kusuma wardhani tidak disangsikan lagi adalah buah dari kekompakan, latihan disiplin yang ketat dan kerja keras. Dan tidak bisa dilupakan, bahwaorang pertama yang berada di balik sukses ketiga pemanah itu adalah Donald Djatunas Pandiangan, pelatih yang terkenal tegas.

Medali perak yang diraih para pemanah andalan Indonesia di Olimpiade Seoul, ada yang menganggap sebagai suatu sukses yang mengejutkan. Sebab Koni sendiri tidak mentargetkan apa-apa kepada para atlet. Kecuali “mencari dan menambah pengalaman internasional”. “Target medali adalah di Olimpiade Bercelona”.

Tapi tidak bagi Donald pandiangan. Pandiangan yang ikut mencucurkan airmata kegembiraan atas sukses anak asuhannya itu punya tekad pasti di Olimpiade Seoul. “Tekad saya keras untuk memboyong medali. Saya tidak mau jerih payah selama 10 bulan hanya sia –sia” kata Pandiangan .

Ketika beristrahat di Bandara Hongkong sebelum kembali ke Indonesia 5 oktober lalu, Karyawan PT. Angksa Pura di bagian Humas ini bercerita panjang lebar kepada saya. Dia banyak menyimpan uneg-uneg ketidakpuasan selama melakukan pembinaan maupun selama berada si Seoul. “Tapi saya minta ini jangan anda tulis, asal anda tahu saja” pesannya.

Apa sesungguhnya resep bekas robinhood Indonesia ini dalam menggembleng para pemanah hingga mampu meraih sukses?. “Yang saya bina pertama adalah Kepribadian. Pemanah harus punya kepribadian yang stabil. Kemudian disiplin yang tinggi dan kekompakan” kata putra Batak berumur 43 tahun itu.

Di lingkungan atlet pelatnas olimpiade dia dikenal sebagai pelatih yang keras. Tapi ia juga bsa bersikap lembut. Saya terkesan ketika di Hongkong Pandiangan sangat memperhatikan anak asuhannya. Dia membagi-bagikan minuman kaleng dan buah apel yang dibawahnya dari Seoul kepada para anak asuhannya apakah lapar dan ingin makan.

Melakukan pelayanan seperti itu juga terlihat ketika para pemanah beristrahat dalam pertandingan di Hwarang.

Menurut Pandiangan, kalau ingin maju  tidak ada pilihan lain kecuali berlatih dengan disiplin tinggi. Hal itu juga bisa dilihatnya dari sistem yang diterapkan oleh Korea Selatan yang ternyata sukses besar.

Selama di Seoul menurut Pandiangan ia banyak berbicara dengan parah pelatih Korea. “Atlet yang berhasil  masuk pelatnas di Korea adalah mereka yang mau berlatih keras dan penuh disiplin. Yang tidak loyal dan minta di manja, silahkan keluar” cerita Pandiangan tentang kesuksesan Korsel.

“saya bertekad, kalau masih di percayakan menangani panahan saya akan tetap menjalankan pola dan sistem latihan yang telah saya yakini benar” katanya lagi.

Karena itu, sekali lagi, sukses regu panahan Indonesia di Olimpiade Seoul, tidak bisa tidak adalah juga sukses Pandiangan sebagai pelatih.

Tiba di Bandara Soekarno-Hatta, krew TVRI dan seluruh wartawan menyerbu ketiga srikandi. Sementara Pandiangan hanya bisa memperhatikan di antara kerumunan para atlet lainnya.

Saya memperhatikan Pandiangan dan menyaksikan bola matanya yang berkaca-kaca. Tapi saya tidak tahu persis, fikiran apa yang bergejolak di benaknya. (Bersambung)

Iklan