Latest Entries »

TIAP hari keluyuran di Kota Seoul untuk keperluan meliputi olimpiade, sewaktu-waktu bisa kesasar di kesibukan kota metropolitan bukanlah hal  aneh, meski sangat menjengkelkan. Ada 23 cabang olahraga yang dipertandingkan dan tempatnya tersebar di 15 lokasi yang tempatnya saling berjauhan. Sebagian bisa di jangkau dengan kereta api bawah tanah, sebagian harus dengan bis kota, atau kalau mau cepat dengan resiko biaya mahal boleh juga naik taksi. Hari-hari yang menjengkelkan itu adalah pada minggu-minggu pertama, sebelum dimulainya olimpiade.

Di seoul, nama-nama jalan, pertokoan atau perkantoran tidak menggunakan tulisan latin, kecuali hotel-hotel Internasional. Mereka masih tetap setia memakai huruf hangul yang  merupakan huruf tradisional bangsa korea.

Dalam rangka Olimpiade, pemerintah setempat tampaknya berusaha memecahkan kesulitan itu dengan membikin petunjuk arah jalan dan lokasi daerah tertentu yang di gantung di beberapa bagian kota. Petunjuk arah jalan dan lokasi daerah tertentu yang di gantung di beberapa bagian kota. Petunjuk arah tersebut ditulis dalam bahasa Inggris dan sebagian juga masih di campur dengan memakai huruf hangul.

Tapi petunjuk tersebut tidak begitu banyak membantu, karena hanya terdapat di dalam kota. Di subway (stasiun kereta api bawah tanah) atau di persimpangan jalan tertentu panitia Olimpiade juga menempatkan pos-pos darurat. Sementara di lokasi-lokasi tempat pertandingan didirikan pos informasi. Brosur dan peta mengenai kota Seoul, lengkap dengan lokasi tempat pertandingan dilangsungkan disebar di tiap-tiap pos dan hotel.

Pemerintah Seoul agaknya telah menyiapkan olimpiade serapi mungkin. Terkesan, hamper seluruh lapisan masyarakat dilibatkan untuk membantu orang asing, terutama dalam hal memberikan Informasi kepada siapa saja. Kesulitan satu-satunya hanyalah factor komunikasi, karena rata-rata masyarakat seoul sangat payah pengertian bahasa Inggris yang pasaran sekalipun.

Namun ternyata disinilah seni dan keunikannya berhubungan dengan mereka. Tidak bisa berkomunikasi dengan baik ternyata malah lebih memudahkan bila kita meminta bantuan. Orang Korea yang sekilas terlihat kasar kenyataannya sangat ramah dan baik hati.

Setiba di Seoul, saya bersama dua rekan wartawan dari Surabaya dan seseorang dari Manado telah menerima informasi bahwa hotel-hotel telah menerima informasi bahwa hotel-hotel telah penuh terisi dan yang tersisa hanyalah motel, atau di Korea biasa di sebut yogwan. Tapi yogwan-yogwan ini juga sebagian besar telah terisi, terutama yang berdekatan dengan lokasi pertandingan.

Setelah satu malam menginap di yogwan yang jauh di pinggiran kota, keesokan harinya saya bersama seorang rekan dari Jawa Pos berusaha mencari yogwan yang strategis. Tapi bagaimana bisa tahu yang namanya yogwan, karena semua tulisan memakai huruf hangul?.

Dua orang polisi yang sedang patrol di sepanjang di sepanjang trotoar kami minta bantuannya untuk menunjukkan yogwan. Kedua polisi ini tidak paham bahasa inggris, kecual mengerti kata-kata yogwan yang kami ulang berkali-kali. Mereka ternyata tidak hanya sekedar menunjukkan tempatnya, tapi meminta kami mengikutinya. Bahkan mereka pula yang berhubungan dengan pemilik penginapan menanyakan persediaan kamar.

 

Tiga buah yogwan yang kami datangi ternyata penuh semua. Dibawah hujan rintik-rintik kedua polisi it uterus berusaha membantu, sampai akhirnya bertemu dengan yogwan yang pemiliknya sedikit mengerti bahasa inggris. Untungnya lagi, pemilik yogwan tersebut juga baik hati. Ia setuju satu-satunya kamar yang tersisa kami isi 4 orang dengan harga 25.000 won / malam atau Rp.57.500

MENJALIN PERSAHABATAN  

            Keramahan dan kebaikan hati

Masyarakat Seoul memang sangat bersahaja. Yang paling berkesan adalah bantuan  yang mereka berikan ketika saya mencari alamat rekan seorang mahasiswi Korea untuk mengantarkan oleh-oleh seorang rekan wartawan di tanah air. Alamat yang saya bawa ditulis dengan bahasa latin. Setengah hari enuh penuh berkeliling baru alamat yang dimaksud ditemukan. Itu pun setelah seorang pedagang pakaian jadi yang bisa membaca latin menyalin alamat tersebut ke dalam tulisan hangul.

            Saya diantar secara beranting oleh beberapa orang. Mulanya dua orang suami istri yang saya temui di jalan. Istrinya dia minta menunggu di sebuah toko, sementara dia mengantar saya kesebuah toko obat dan menitipkan saya agar dibantu. Pedagang obat tersebut membawa saya berjalan dan menyerahkan lagi pada temannya. Sampai akhirnya bertemu seorang pria bersepeda yang tampaknya seorang pedagang sayur. Lelaki bersepeda inilah yang mengantar saya ke tempat tujuan, sekaligus memanggilkan taksi dan menjelaskan pada sopir mengenai alamat yang di tuju.

            Sifat suka menolong orang lain terkesan menonjol sekali. Suatu ketika saya pulang agak malam setelah mengirim berita ke tanah air. Didalam kereta api bawah tanah, seorang pria yang mabuk mengganggu saya dengan sikap kasar sambil ngoceh tidak karuan. Beberapa penumpang di depan dan samping saya tidak enak melihat kejadian itu. Seorang lelaki berusaha menegor pemabuk itu tapi tak di indahkan.

            Seorang pria setengah umur tiba-tiba berdiri dan menghardik pemuda yang terus-terusan ngoceh di depan saya dan menariknya menjauh. Di stasiun berikutnya pemuda mabuk itu di suruh turun. Pria setengah umur tersebut mendekati saya dan disertai senyuman yang berucap. “I am sorry, I am sorry. Where you come from…?”

            Melihat pemandangan lelaki mabuk setelah pulang kerja di Seoul adalah hal yang biasa. Dalam keadaan sepoyongan, jas biasanya hanya di pegangi dan dasi sudah tidak terikat dengan baik lagi. Sepanjang jala biasanya mereka berteriak-teriak atau menyanyi.

     Pertegkaran sengit di pinggir jalan atau dalam bis sering pula terjadi. Setidaknya saya tiga kali memerogoki mereka bertengkar. Tapi tak pernah sampai terjadi baku hantam. Paling seru pernah terjadi di dalam bis. Saya menduga akan segera menyaksikan perkelahian yang seru, tapi tidak terjadi. Pertengkaran mereda begitu sja. Kabarnya, tiap perkelahian akan di usut, siapa yang lebih dahulu memukul dan bisa menerima hukuman lebih berat. Mungkin itu pula sebabnya tak ada yang mau memukul lebih dahulu.

            Saya yang tak terbiasa minum-minuman keras, agak susah juga meneruskannya ketenggorokan. Ternyata isi gelas tak boleh dihabiskan. Tuan Min minta kami mengisinya kembali untuk dia dan para stafnya.

            “Nah, sekarang kita semua menjadi sahabat  yang baik” kata tuan Min setelah menghabiskan Soju dalam gelas. Ia juga menjelaskan, begitulah caranya orang korea menjalin persahabatan dengan orang baru.

            Seoul adalah kota metropolitan yang sibuk sepanjang hari dan tak acuh. Semua tampak serba tergesa-gesa, terbirit-birit. Hampir tak ada orang yang berjalan lambat. Semua mengejar waktu, mengejar kereta api bawah tanah, mengejar bis kota –mengejar efisiensi.

Kotanya yang bersih dan teratur rapid an masyarakatnya yang tertib dengan disiplin tinggi, bisa membuat orang asing jadi rendah diri. “Saya belum puas kalau tidak melihat orang berjalan memakai sandal disini” gurauan seorang rekan wartawan.

            Demonstrasi – melampiaskan ketidak puasan apa saja – boleh terjadi setiap hari  bahkan sampai malam. Tapi semuanya dilampiaskan dengan tertib. Saya pernah terheran-heran menyaksikan seorang pengendara mobil membentak-bentak polisi lalu lintas yang menilangnya, sambil berkacak pinggang. Pengendara itu tampaknya tak merasa bersalah. Dan polentas itu tampaknya tidak begitu risau diperlakukan seperti itu.

Iklan

TIGA minggu berada di Seoul, baru hari terakhir saya bisa mengunjungi Mesjid central Seoul di Daerah Han Nam-Dong, tidak jauh dari pasar kakilima Itaewon yang terkenal ramai. Sebenarnya saya sudah menjadwalkan akan ikut bersembahyang Jumat pada tanggal 30 September, tapi disebabkan kesibukan meliputi olimpiade, baru tanggal 4 Oktober sehari sebelum kembali ke tanah air, saya bisa menjejakkan kaki di masjid yang cukup megah itu.

Masjid Central Seoul terletak di atas tanah berbukit, dikelilingi perumahan penduduk dan pasar kelontongan. Berlantai dua dengan kapasitas 1.000 jema’ah, Masjid Central Seoul dibangun pada tahun 1976 di atas tanah seluas 5.000 meter persegi. Areal tersebut merupakan sumbangan dari Presiden Korsel (ketika itu) mendiang Park Jung Hee.

Sore itu saya tiba di Masjid Central Seoul persis pasa saat sembahyang Asyar. Di ruang depan tampak lenggang. Lewat pintu ang sedikit terbuka, di sudut kanan ruangan, seorang wanita Korea terlihat sedang mengambil wudhu. Saya terus nyelonong ke ruang tengah yang agaknya merupakan ruang rapat atau istrahat.

Setelah mengucapkan salam, saya memperkenalkan diri kepada seorang pemuda yang sedang membongkar-bongkar tas nya diatas meja. Ketika ia tahu bahwa saya berasal dari Indonesia, pemuda itu riang sekali. “Saya dari Malaysia, kalau begitu kita bicara bahasa melayu saja” katanya makin riang.

Pemuda itu bernama Yusri binti Muhammad, salah satu dari 90 orng mahasiswa Malaysia yang mendapat tugas belajar di Korsel oleh pemerintahnya. Pemuda berumur 19 tahun ini baru 6 bulan berada di Seoul. Ia mengambil jurusan mesin. Tapi selama satu tahun ia harus belajar bahasa korea dulu.

“Sebab buku-buku pelajaran disini semua ditulis dalam bahasa nasional Korea” cerita Yusri.

Setelah Sembahyang Asyar, yusri mempertemukan saya dengan Ustadz Abdussamad yang berkumis dan berjenggot lebat ini kemudian memperkenalkan saya kepada H. Abdul Rasyid, juga seorang ustadz di Korea Selatan yang berasal dari Thailand bagian selatan.

Ustadz Abdul Rasyid yang juga berusia 42 tahun, maupun ustad Abdussamad ternyata lancer berbahasa Indonesia, Arab, Korea dan Inggris. Abdul Rasyid sebenarnya menjadi imam masjid di Masjid Kwang-ju yang jaraknya hanya 40 kilometer dari Seoul. Tapi hari itu kebetulan ia ada keperluan di Masjid central Seoul.

Di Korea Selatan terdapat 5 buah Masjid besar dan 4 buah masjid yang hanya temporer sifatnya. Kelima masjid besar itu tersebar di-lima daerah. Masjid central di Seoul di Seoul, Masjid Busan Al-Fatah di pusan (400km dari Seoul), Masjid Abu-Bakar Al-Sidiq di Chonju (225 Km dari Seoul), Masjid Kwang Ju (40 Km dari Seoul) dan Masjid Anyang Ravita di Anyang (30 Km dari Seoul).

Dari kelima Masjid besar Di Korsel, Masjid Anyang Ravita adalah satu-satunya tempat ibadah yang dibangun oleh Tokoh Islam Korea, yaitu Yoo, seorang aktivis muslim di Negara itu, Yoo Chang Shik yang kini berganti nama menjadi Imam Hussen membeli tanah untuk membangun masjid di Anyang.

Di areal yang dibeli Imam Hussen tersebut kebetulan pula ada gereja yang tidak dipergunakan lagi. Maka dengan biaya sebesar 50 juta won atau sekitar Rp. 115 juta, pada tahun 1986 Imam Hussen merombak Gereja tersebut menjadi Masjid. Masjid itu kemudian di beri nama Ravita oleh International Muslim Federation yang berkedudukan di Arab Saudi.

Imam Hussen sendiri hingga kini menetap di Anyang dan menjadi imam Masjid. Ia dan saudaranya sangat gigih menyebarkan ajaran Agama Islam di daerah tersebut. Menurut brosur yang dikeluarkan oleh KMF (Korea Muslim Federation) pada bulan Juni lalu. Di Anyang baru tercatat 44 orang Islam.

Seluruh umat muslim di Korea selatan yang berpenduduk 40 juta lebih itu, menurut regestrasi terakhir berjumlah 32. 423 orang. Penganut terbesar berada di Seoul, ibukota Korsel dengan jumlah 24.483 orang. Sedang sisanya tersebar di beberapa tempat seperti di Pusan, Kwang –Ju, Jeon-Ju dan lain-lain.

Untuk lebih memperdalam Ilmu agama, KMF juga mengirimkan Mahasiswa-mahasiswa muslimnya untuk belajar di Beberapa Negara yang lebih maju peradaban Islamnya. Mahasiswa muslim Korea paling banyak justru di Indonesia, yaitu 16 orang, terdiri dari 12 Lelaki dan 4 Wanita. Sementara di Arab Saudi hanya 12 orang dan Malaysia 7 Sebagian lagi tersebar di Maroko, Pakistan, Libia dan beberapa Negara Timur Tengah lainnya.

Islam mulai masuk ke Korea pada bulan September 1955, dua tahun setelah usainya perang saudara yang mengakibatkan terbelah duanya Negara itu. Dua orang anggota pasukan Turki bernama Imam Abdul Rahman dan Zuber Kochi saat itu menetap cukup lama disana. Kedua imam ini dengan sabar menyebarkan Islam dan membentuk kelompok masyarakat muslim Korea yang diberi nama “Organized The Muslim Society in Korea”. 12 Tahun kemudian atau pada Maret 1967 berubah menjadi KMF yang secara Resmi diakui oleh Pemerintah Korea.

 

Rintisan kedua imam dari Turki ini kini dilanjutkan oleh 5 orang da’I yang terus berda’wah di Korea Selatan. Mereka adalah Dr. Abdul Wahab Jahid dari Syria, Abdussmad dari Singapura, Abdul Rasyid dari Thailand, Musthopa juga dari Thailand dan Imam Hussen yang merupakan putra Korea Sendiri. Kegiatan da’wah mereka di Program langsung oleh Darul Ifta yang berpusat di Arab Saudi.

Ustadz Abdussamad yang ternyata jebolan Pesantren Gontor Ponorogo Jawa Tengah tahun 1977 mengatakan, tugas utamanya kini adalah meningkatkan  pelajaran agama dan Bahasa Arab. Dalam memberikan kursus-kursus ia dibantu oleh aktivis muda muslim Korea bernama Usman Sun dan Sulaeman Lee. Kursus keagamaan paling singkat dilakukan selama 3 bulan.

“Dari seluruh peserta, 80% di antaranya umumnya tertarik masuk Islam” kata Abdussamad. Bahasa Arab merupakan Faktor utama yang harus dipelajari bagi pemeluk agama Islam, terutama bagi kepentingan shalat dan lainnya justru di sini sedikit menemui hambatan, karena masyarakat Korea umumnya tidak begitu tertarik mempelajari bahasa asing.

“Dari 100 yang berhasil kita yakinkan, hanya 40 % yang bertahan, sisanya jarang mau hadir lagi” cerita Abdussamad lagi.

Karena itu, para mahasiswa Korea yang belajar bahasa Arab di Universitas Miung-Ji dan Hang-Guk yang berjumlah 1500 orang sering dimamfaatkan tenaganya untuk da’wah. Sebagian mahasiswa yang belajar bahasa Arab ini juga ada yang tertarik masuk Islam. Mereka langsung dibina secara Intensif untuk kelancaran da’wah.

Bagaimana melakukan pembinaan terhadap muslim korea di Negara yang masih asing dengan Islam itu?. Pada mulanya, alamat rumah tiap para pemeluk di catat dengan cermat. Ini dimaksudkan agar mudah menghubungi mereka untuk pendalaman ilmu agama.

“Tapi disebabkan sebagian rmah yang mereka tinggali adalah rumah sewa dan mereka pindah ke tempat lain, maka kami sering kehilangan jejak” kata Abdussamad. Untuk lebih memudahkan, maka bukan hanya alamat rumah yang di catat, tapi juga Kantor atau pabrik tempat mereka bekerja. “Bila diketahui mereka sudah pindah rumah kami akan menghubungi mereka di tempat kerja” cerita abdussamad lagi. Silahturahmi memang terus dipupuk.

Islamisme di Korea tidak melulu hanya di ajarkan pada orang dewasa tapi lebih intensif lagi terhadap anak-anak. Pada hari minggu dibuka kelas khusus bagi anak-anak yang berumur di bawah 12 tahun. Mereka diberi pelajaran Islam secara mendasar. Antara lain pembacaan Al-quran, mempelajari tafsir dan hadis, lagu-lagu qasidah dan lain-lain dalam bentuk studi grup.

“Mereka ini kami harapkan nantinya akan menjadi generasi penerus” kata Abdussamad.

Selama berlangsungnya olimpiade, da’wah tertulis juga gigih disebarluaskan. World Assembly Of Muslim Youth (WAMY) yang berpusat di Riyadh membantu membikin ribuan brosur yang kemudian  diperbanyak oleh KMF. Brosur tersebut  dicetat dalam dua bahasa, yaitu Inggris dan Korea. Di lipatan depan brosur berwarna biru muda yang disebarkan di berbagai tempat keramaian itu di tulis huruf kapital Islam at a Glance.    

 

BERLAGA di kejuaraan olahraga akbar seperti di olimpiade, atlet-atlet kita begitu kecil disbanding atlet-atlet dari Negara lain yang begitu perkasa. Olimpiade bukan saja untuk mengukur dan mencoba ketangguhan prestasi bagi tiap atlet. Tapi lebih dari itu adalah untuk mengukirkan prestise itu, setelah 36 tahun kita mengikuti olimpiade.

Di Olimpiade Seoul, dari 29 atlet Indonesia yang bertanding di 11 cabang olahraga hanya ada beberapa atlet yang bisa dicatat mampu unjukgigi dalam persaingan yang begitu keras. Sebagian besar atlet lainnya benar-benar hanya mampu memenuhi target, yaitu sekedar mencari pengalaman internasional.

Dari segelintir yang bisa dicatat, selain putrid panahan bisa disebut nama-nama seperti Dirdja Wihardja dan I Nyoman Sudarma (angkat besi) serta Mardi Lestari (lari 100 meter).

Nyoman Sudarma asal Bali yang bertanding di kelas 75 kg berhasil menempatkan dirinya di urutan 10 besar dunia. Di Seoul, ia juga berhasil memecahkan rekor nasional dengan total angkatan 320 Kg. Rekor lama atas namanya sendiri hanya 302,5 Kg.

Sebelumnya Nyoman hanya menduduki rangking ke 11. Tapi terbongkarnya kasus doping di cabang angkat besi menjadikan posisi Nyoman naik. Urutan ke 4 di kelas Nyoman tersebut semula di tempati leh lifter Hungaria, Kalman Osengeri, namun dalam test doping Kalman terbukti menggunakan obat perangsang. Posisinya dicopot dan dengan demikian posisi Nyoman jadi naik.

Demikian pula yang teradi di kelas 56 Kg yang di ikuti oleh lifter Didja Wihardja. Pemegang emas di kelas Dirdja tersebut adalah lifter Bulgaria, Mitko Grablev dengan total angkatan 297,5 Kg. Dirdja, mahasiswa STIE Jakarta berada di urutan ke 5 dengan total angkatan 255 Kg.

Seperti juga Ben Johnson, sprinter dari Kanada, Mitko Grablev dipaksa menyerahkan medali emasnya, setelah ia terbukti menggunakan doping. Rangking Dirdja pun praktis naik di urutan ke 4.

Untuk Asia, posisi Dirdja di urutan 4 sudah cukup memuaskan. Sebab juara di kelas 56 Kg tersebut di tempati Lifter Uni Sovyet, Oxen Mirzoian, setelah terbongkarnya kasus Grablev. Sedang juara dua dan tiga di tempati lifter dari RR cina. Mengamati posisi di atas, Dirdja sudah termasuk 3 besar di Asia.

Meski demikian harus pula di akui Dirdja Wihardja masih jauh ketinggalan dengan dua lifter Cina itu, yang mampu mengangkat barbell masing-masing seberat 267,5 Kg- yang berarti 12,5 Kg di atas Dirdja.

Sebenarnya ada 5 lifter yang diterjunkan ke Olimpiade Seoul. Tapi 3 lifter lainnya, Sodikin (52 Kg), Yon Haryono (56 Kg) dan Catur Mei Studi (60 Kg) tidak bisa berbuat banyak. Bahkan Catur Mei mengalami cidera urat pinggang ketika berusaha mengangkat barbell seberat 110 Kg. Dia diharuskan beristirahat panjang.

Sementara itu, pelari tercepat andalan Indonesia, Mardi Lestari dalam cabang atletik lari 100 meter, juga tercatat sebagai salah seorang atlet yang mampu bersaing di Seoul. Memang tak seorang pun yang berharap lebih banyak terhadap pelari asal Jambi ini misalnya menggondol medali. Tapi dengan keberhasilannya maju ke semi final, setelah melalui dua putaran, itu merupakan prestasi dan kebanggaan tersendiri.

Disemifinal Mardi antara lain bersama-sama dengan Carl lewis (AS) dan Calvin Smith (Inggris), dua pelari tercepat dunia di Samping Ben Johnson. Pokoknya, di semifinal itu Mardi-lah satu-satunya pelari berkulit coklat dengan postur paling kecil, lawan-lawannya semuanya berkulit hitam dengan otot-otot yang menonjol.

“Mana mungkin saya bisa bersaing dengan mereka” kata Mardi yang hanya berada di urutan ke 6 dari 7 pelari pada putaran semifinal itu. Toh, di Seoul Mardi mampu mempertahankan rekor nasional atas namanya sendiri yang di ciptakannya di  jerman Barat  dengan catatan 10, 32 detik pada bulan Agustus. CUMA BEGITU”

Sebenarnya masih ada cabang-cabang lain yang diharapkan mampu mengukir prestasi optimal. Misalnya Tinju, gulat dan Layar. Eddy Sulistianto dan Abdul Malik bukanlah atlet kemarin sore di cabang layar. Prestasi Internasional mereka boleh di banggakan selama ini, setidaknya untuk ukuran Asia.

Eddy, adalah pemegang medali emas di SEA GAMES tahun 1983 dan 1985. Bersama Malik, ia sudah pernah ke Pusan- tempat diselenggarakannya pertandingan selama Olimpiade Seoul. Pertama pada kejuaraan Asian Games 1986. Seperti dikatakan pelatih mereka, Binsar kepada saya, kedua anak asuhannya itu sudah tidak asing lagi dengan situasi Pusan, kota pelabuhan yang merupakan kota terbesar kedua setelah Seoul.

Kedua atlet layar ini bahkan berangkat ke Korsel satu minggu lebih awal dari kontingen, untuk berlatih di Pusan. Hasilnya, dalam beberapa kelas yang dipertandingkan selama 7 hari sejak 20 September, mereka jauh di Urutan bawah. Negara-negara Eropa memang merajai dalam cabang layar ini.

Di cabang tinju, Adrianus Taroreh (ringan) dan Ilham Lahia (bulu) ternyata hanya sempat turun satu kali. Adrianus rontok di tangan petinju Inggris, sementara Ilham dipecundangi petinju Gabon.

Begitu juga dengan dua pegulat yang sama-sama berasal dari Kalimantan, Suryadi dan Surya Saputra. Menyaksikan mereka bertanding, saya sendiri hampir tidak percaya, “kok cuma sebegitu saja Kemampuan Atlet Indonesia.”. Surya dan Suryadi seperti baru belajar gulat.

Karena lawan-lawan pertama yang mengalahkan mereka adalah pegulat dari Asia, saya sendiri sering bertanya-tanya pada diri sendiri: Bagaimana dengan target Asia, yng sering digembar-gemborkan itu?.

Tiap atlet Indonesia yang merasa gagal dalam pertandingan, umunya punya alasan yang sama bila menjawab pertanyaan wartawan. Yaitu tidak punya pengalaman bertanding di luar negeri atau kalah pengalaman. “Bagaimana bisa berprestasi kalau selama ini hanya di simpan saja” kata seorang atlet.

Nada kecewa seperti itu juga dilontarkan petenis Yayuk Basuki. Petenis asal Yogyakarta ini juga amblas pada babak awal di tangan petenis Prancis, Suire Catherine. Demikian dengan pasangan ganda terkuat Wailan Walalangi/Suharyadi.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan Atlet Indonesia di Seoul, tujuan  mencari pengalaman internasional sudah terpenuhi. Setidaknya bagi Waylan/Suryadi. “Andai saja kami banyak punya kesempatan bisa bermain dengan pasangan kuat seperti ini, pasti bisa maju juga” kata Wailan.

Pasangan kuat yang dimaksud Wailan adalah petenis ganda nomor satu Amerika Serikat, Kent Flach/Robert Seguso yang mengalahkan mereka di babak awal.

“Tidak usah jauh-jauh, bisa berlatih di Korsel selama setahun saja, rasanya kita bisa jadi juga” kata pegulat Surya Saputra yang asal Kalsel. Surya sangat merasa kagum dengan para pegulat negeri ginseng yang dinilainya cukup tangguh.

Menurut penilaian, Surya Saputra maupun Suryadi yang berasal dari Samarinda, Pegulat-pegulat Korsel telah menjadi Ancaman serius bagi Para Pegulat Asia.

ADA 1 regu dari 12 negara yang tampil di babak semifinal pagi itu. Yaitu Indonesia, Korea Selatan, Jerman barat, Inggris, Amerika Serikat, Swedia, RRC, Uni Sovyet, Mongolia, Prancis, Polandia dan Cina Taiwan.

Pada jarak 70 meter yang dilangsungkan sebanyak 3 ronde, dimana tiap regu masing-masing melepaskan 9 anak panah, ketiga srikandi Indonesia benar-benar kedodoran. Sampai ronde terakhir jarak 70 meter ini nama Ina (kependekan dari Indonesia) tidak  muncul di antara regu 8 besar, pada papan pencatat angka. Pelatih panahan, Donald Pandiangan saya lihat tenang saja, sementara saya mulai kegelisah di antara penonton Korea yang bertepuk riuh mendukung regunya.

Pada jarak 60 meter ronde pertama, Indonesia masi juga belum masuk 8 besar yang bakal maju ke final. Baru pada ronde kedua tulisan Ina muncu di urutan 7 besar, menggeser regu Cina Taiwan. Dan pada akhir ronde ketiga srikandi itu makin melejit dengan menduduki urutan kelima, menggeser Polandia yang anjlok ke urutan 8.

Yang sangat mengesankan saya adalah ketenangan yang luar biasa dari dari ketiga pemanah putri tersebut. Pada saat membidik sasaran maupun saat kembali ke tempat duduk, setelah menyaksikan perhitungan angka, Lilies Nurfitriyana dan Kusuma Wardhani kelihatan tenang sekali. Saya melihat mereka hamper tak punya beban. Bahkan Lilies sesekali masih sempat menggumbar senyuman.

Di ronde kedua jarak 50 meter rangking ketiga pemanah itu makin melejit, yaitu diurutan ke-4 ini tetap mampu mereka mempertahankan hingga selesai pada jarak 30 meter. Lewat telescop saya melihat ketiga srikandi Indonesia tersenyum riang. Pandiangan juga berwajah cerah. Dan perasaan saya semakin mantap. Mereka masuk final. “Selangkah lagi” bisik saya pada diri sendiri.

Kedelapan regu yang masuk final tersebut adalah Korsel (point -1000), AS (989), Sovyet (978), Indonesia (975), Inggris jerbar (953), Prancis (950) dan Swedia (949).

Sejak ronde awal tuan rumah Korea Selatan lewat tiga pemanah putrinya Kim Nyung Sook, Wang Hee Kyung dan Yun Yong Soo yang masing-masing masih duduk di bangku SLTA, terus terusan mendominasi di urutan pertama tanpa pernah tergeser. Bahkan dengan selisih angka yang cukup jauh dengan regu lainnya.

Pada saat Regu Indonesia msuk final, hanya saya dan dua wartawan Indonesia lainnya yang menyaksikan. Seluruh ofisial dan atlet siang itu masih berada di Kedutaan Besar Indonesia, menghadiri upacara hari kesaktian Pancasila. Kabar masuk final itu cepat tersiar dan menjelang sore hari beberapa wartawan Indonesia berdatangan ke Hwarang. Juga ketua kontingen, Wiek Djatmika.

Pertandingan semifinal berakhir sekitar pukul 01.00. Meskipun  babak final dilangsungkan lebih tiga jam lagi, tapi saya memilih beristrahat di Hwarang.

Lokasi tempat diselenggarakannya panahan adalah suatu areal yang luas, dikelilingi pohon-pohon Vinus yang rindang. Di belakang pepohonan vinus berjejer bukit yang menghijau. Sekitar lima buah gedung bertingkat di areal panahan itu juga ikut membantu menjinakkan hembusan angin.

Belakangan, baru saya tahu kalau di puncak-puncak gedung bertingkat itu ditempatkan beberapa orang penembak jitu dengan senjata berat. Saya berpaspasan dengan regu tembak yang mengawasi seluruh sudut Hwarang itu ketika hendak pulang, seusai pertandingan.

Babak final yang dimulai sore hari diawali dengan jarak 30 meter. Di ronde pertama Korsel tetap unggul  dengan nilai 86, Indonesia membuntuti dengan nilai 85 dan Jerman di urutan ketiga dengan nilai 84. Tapi di ronde kedua dan ketiga srikandi Indonesia membuat kejutan dan membikin geger penonton korea yang fanatic. Mereka menggeser Korsel yang hanya mendapat nilai 171 ke urutan kedua, sementara Indonesia berada diatas dengan nilai 172. Di ronde akhir jarak 30 meter, ketiga srikandi itu memperoleh nilai 259 dan korsel 258. Urutan ketiga ditempati Amerika Serikat dengan nilai 253.

Tapi pada jarak 50 meter, Indonesia yang tampaknya hanya kuata pada jarak pendek, kembali digusut tuan rumah. Dari jarak 50 sampai 70 meter ronde terakhir urutan tiga besar tetap dipegang Korsel, Indonesia dan AS. Namun nilai Indonesia dan AS pada ronde akhir tersebut ternyata sama, yaitu 952. Karena itu harus dilakukan Shoot off antara Indonesia dan AS untuk menentukan regu terbaik.

Sekali lagi, pada saat-saat genting seperti itu ketiga srikandi kita memperlihatkan ketenangannya. Sementara saya sendiri bisa bernafas lega, sebab minimal perunggu sudah dalam tangan. Meski demikian saya terus berdoa agar dalam pertarungan tambahan menentukan itu regu Indonesia tampil dengan baik.

Penonton yang sebagian besar terdiri dari orang Korea ternyata memihak pada ketiga pemanah Putri Indonesia. “Indonesia, Indonesia” teriak mereka sambil mengibarkan bendera Korea, pada saat keenam pemanah mulai membidik.

Begitulah keberuntungan ternyata telah memihak pada ketiga Srikandi kita. Dalam tanding ulang mereka mendapat nilai lebih baik. Regu As sial, karena salah satu dari anak panah dari tiga yang dilepas ternyata meleset ke samping dan jatuh di tanah.

RESEP PANDIANGAN

Sukses ketiga pemanah Indonesia, lilies handayani, Nur fitriyana dan Kusuma wardhani tidak disangsikan lagi adalah buah dari kekompakan, latihan disiplin yang ketat dan kerja keras. Dan tidak bisa dilupakan, bahwaorang pertama yang berada di balik sukses ketiga pemanah itu adalah Donald Djatunas Pandiangan, pelatih yang terkenal tegas.

Medali perak yang diraih para pemanah andalan Indonesia di Olimpiade Seoul, ada yang menganggap sebagai suatu sukses yang mengejutkan. Sebab Koni sendiri tidak mentargetkan apa-apa kepada para atlet. Kecuali “mencari dan menambah pengalaman internasional”. “Target medali adalah di Olimpiade Bercelona”.

Tapi tidak bagi Donald pandiangan. Pandiangan yang ikut mencucurkan airmata kegembiraan atas sukses anak asuhannya itu punya tekad pasti di Olimpiade Seoul. “Tekad saya keras untuk memboyong medali. Saya tidak mau jerih payah selama 10 bulan hanya sia –sia” kata Pandiangan .

Ketika beristrahat di Bandara Hongkong sebelum kembali ke Indonesia 5 oktober lalu, Karyawan PT. Angksa Pura di bagian Humas ini bercerita panjang lebar kepada saya. Dia banyak menyimpan uneg-uneg ketidakpuasan selama melakukan pembinaan maupun selama berada si Seoul. “Tapi saya minta ini jangan anda tulis, asal anda tahu saja” pesannya.

Apa sesungguhnya resep bekas robinhood Indonesia ini dalam menggembleng para pemanah hingga mampu meraih sukses?. “Yang saya bina pertama adalah Kepribadian. Pemanah harus punya kepribadian yang stabil. Kemudian disiplin yang tinggi dan kekompakan” kata putra Batak berumur 43 tahun itu.

Di lingkungan atlet pelatnas olimpiade dia dikenal sebagai pelatih yang keras. Tapi ia juga bsa bersikap lembut. Saya terkesan ketika di Hongkong Pandiangan sangat memperhatikan anak asuhannya. Dia membagi-bagikan minuman kaleng dan buah apel yang dibawahnya dari Seoul kepada para anak asuhannya apakah lapar dan ingin makan.

Melakukan pelayanan seperti itu juga terlihat ketika para pemanah beristrahat dalam pertandingan di Hwarang.

Menurut Pandiangan, kalau ingin maju  tidak ada pilihan lain kecuali berlatih dengan disiplin tinggi. Hal itu juga bisa dilihatnya dari sistem yang diterapkan oleh Korea Selatan yang ternyata sukses besar.

Selama di Seoul menurut Pandiangan ia banyak berbicara dengan parah pelatih Korea. “Atlet yang berhasil  masuk pelatnas di Korea adalah mereka yang mau berlatih keras dan penuh disiplin. Yang tidak loyal dan minta di manja, silahkan keluar” cerita Pandiangan tentang kesuksesan Korsel.

“saya bertekad, kalau masih di percayakan menangani panahan saya akan tetap menjalankan pola dan sistem latihan yang telah saya yakini benar” katanya lagi.

Karena itu, sekali lagi, sukses regu panahan Indonesia di Olimpiade Seoul, tidak bisa tidak adalah juga sukses Pandiangan sebagai pelatih.

Tiba di Bandara Soekarno-Hatta, krew TVRI dan seluruh wartawan menyerbu ketiga srikandi. Sementara Pandiangan hanya bisa memperhatikan di antara kerumunan para atlet lainnya.

Saya memperhatikan Pandiangan dan menyaksikan bola matanya yang berkaca-kaca. Tapi saya tidak tahu persis, fikiran apa yang bergejolak di benaknya. (Bersambung)

Panahan dan Firasat Saya

Wartawan Manuntung, Aan R Gustam yang meliputi kegiatan Olimpiade Seoul yang berlangung sejak tanggal 17 September higga 2 Oktober, kembali ke tanah air bersama kontingen Olimpiade Indonesia pada Tanggal 5 Oktober lalu. Berikut ini ia menuliskan kesan-kesannya selama tiga minggu berada di negeri ginseng itu, Tulisannya kami muat bersambung . Selamat mengikuti.

Malam tanggal 1 Oktober itu satu firasat bahwa para pemanah beregu putri akan mampu medali, muncul sangat kuat di hati saya. Selesai membuat laporan tentang kegagalan pemanah Nurfitriyana pada nomor perorangan di kantor telek di pusat Kota Seoul, keyakinan tentang medali itu saya sampaikan kepada beberapa rekan wartawan. Bahkan sampai dua kali.

Saya tidak tahu persis, apakah firasat medali itu merupakan suatu bentuk kamuflase dari perasaan saya karena hanya panahan beregu putri itulah satu-satunya cabang olahraga yang masih tersisa yang akan di ikuti oleh atlet Indonesia. 26 atlet yang terjun dalam 10 cabang olahraga lainnya di olimpiade Seoul itu, dalam pertandingan di hari-hari sebelumnya memang telah berguguran.

Ketiga srikandi Indonesia itu, Lilies Handayani, Nurfitriyana dan Kusuma Wardhani merupakan harapan akhir. Di nomor tunggal yang berlangsung sejak 27 September, ketiga pemanah putri itu masing-masing telah tersingkir.

Namun firasat medali tersebut sesungguhnya mencuat bukan tanpa alasan sama sekali. Penampilan ketiga pemanah andalan Indonesia itu pada babak perorangan, telah menyisakan suatu keyakinan yang mendalam pada hati saya.

Lilies, si hitam manis dari Jawa Timur, meskipun tersisih pada babak awal, tapi dia sebenarnya punya kemampuan prestasi meyakinkan. Bukan saja mampu meraih dua medali emas dan perak di Singapura Agustus lalu, tapi ia juga adalah pemegang rekornas untuk nomor perorangan jarak 30 meter.

Kusuma wardhani, kelahiran Ujungpandang gagal melangkah kesemifinal pada nomor perorangan di Seoul hanya disebabkan selisih satu angka dengan pemanah putrid Uni Sovyet. Sementara Nurfitriyana dari Jakarta yang maju ke semifinal tapi gagal ke final, juga disebabkan selisih satu angka dengan pemanah tuan rumah, Korsel dan pemanah Jerman Barat yang masing-masing berada  di urutan ke 7 dan 8 – jumlah pemanah yang berhak ke final.

Menyimak kembali prestasi mereka pada nomor tunggal itulah yang agaknya membuat terbentuknya suatu keyakinan

Selain itu, sebelumnya mereka memang telah masuk lima besar di semifinal.

Dengan kenyataan itu saya mengambil kesimpulan lebih optimis, bahwa hanya factor lucky saja lagi yang belum menyentuh mereka. Dan firasat saya terus mendesak-desak dada saya seakan mengatakan, keberuntungan segera tiba.

Di motel Hang Woon Jang, tempat saya menginap selama meliputi olimpiade di Seoul, pada malam 1 Oktober itu saya sungguh-sungguh tidak bisa tidur nyeyak. Saya gelisah dan tidak sabar menunggu agar pagi hari segera tiba. Saya ingin cepat-cepat berangkat ke Hwarang Archery Field- tempat diselenggarakannya pertandingan memanah untuk menyaksikan srikandi Indonesia bertanding.

Pertandingan pada sabtu, 1 Oktober itu dimulai pada jam 10.45 waktu setempat untuk babak semifinal dan pukul 4.45 untuk babak final. Tapi pukul 17.30 saya sudah bangun – yang berarti malam itu saya hanya sempat tidur sekitar 3 jam.

Saya memang harus cepat-cepat berkemas, karena daerah Hwarang, sebelah utara Kota Seoul, tempat berlangsungnya pertandingan jaraknya cukup jauh dari tempat saya menginap, yaitu sekitar 30 kilometer. Dan saya benar-benar ingin menyaksikan pertandingan sejak awal. Tiket masuk pun sudah saya pesan sebelumnya.

Karena itu pula, saya menolak mentah-mentah ketika pagi itu seorang rekan wartawan mengajak saya ke Kedutaan Besar Indonesia untuk menghadiri acara peringatan Kesaktian Pancasila. Sekali lagi, pada rekan wartawan itu saya utarakan perasaan saya bahwa saya punya firasat Indonesia akan segera mendapat medali hari ini. “Perasaan saya kuat sekali. Minimal kita akan dapat perunggu hari ini” kata saya.

Pukul 08.00 pagi yang masih terasa dingin, karena suhu yang 16 derajat Celsius, saya sudahmeninggalkan penginapan. Pertama saya harus naik kereta api bawah tanah yang makan waktu setengah jam lebih. Kemudian disambung dengan naik bis kota, juga makan waktu setengah jam. Sebelum  sampai ke lokasi pertandingan, setelah turun ke bis, terlebih dahulu harus berjalan kaki lagi  sejauh 1,5 kilometer. Saya memperkirakan sudah akan sampai ke lokasi 45 menit sebelum pertandingan dimulai.

Tapi hari itu agaknya sial sekali bagi saya. Karena tergesa-gesa dan sepanjang jalan benak dijejali dengan angan-angan medali, saya ternyata menuju pintu masuk lokasi yang keliru.

Tapi sebenarnya bukan melulu kekeliruan saya, Para petugas polisi yang menjaga pintu masuk lokasi, juga saya anggap ikut andil dalam kekeliruan saya.

Ketika saya melintas memasuki pintu gerbang lokasi, 3 orang polisi lalu lintas dan 3 polisi biasa yang berjaga-jaga di depan tidak menegur saya. Saya sebenarnya heran juga, kenapa pintu masuk lokasi di bagian utara ini sepi sekali. (untuk menyaksikan pertandingan panahan sebelumnya, biasanya saya masuk lewat pintu Selatan).

Sekitar 150 meter berjalan kaki dua orang petugas berpakaian pereman menyongsong saya dari balik semak-semak sembari menenteng walky talky. Agaknya mereka hanya pandai berbahasa Korea. Karena itu salah seorang di antaranya memberi isyarat agar saya berhenti dengan melambaikan tangan.

Saya menghampiri mereka dan bertanya, apakah jalan ini benar menuju ke lokasi panahan. Pertanyaan itu saya ulang dua kali dan petugas itu agaknya menangkap kalimat archery dalam pertanyaan saya. Secara berbarengan kedua petugas itu menjawab yes…yes. Dan mereka membiarkan saya terus berlalu, tanpa menanyakan sesuatu lebih jauh lagi.

Kira-kira 100 meter kemudian saya sampai pada pintu gerbang yang dijaga sangat ketat, lengkap dengan pos. sekitar 10 0rang petugas polisi dan tentara bersenjata pistol dan senjata panjang menghadang saya. Saya agak gugup juga.

Tapi dengan sikap tenang, saya langsung menuju pos penjagaan dan bertanya, apakah ini jalan yang menuju ke tempat pertandingan penahan. Tiga petugas bersenjata panjang yang saya Tanya tida menjawab tapi mengurung saya dan member isyarat agar saya menunggu sebentar, sementara salah seorang petugas lainnya berlari-lari menjemput petugas lainnya.

Agaknya, petugas yang di jemput inilah yang paham bahasa Inggris. Petugas yang mengenakan pakaian dinas abu-abu dan berbaret hijau dengan pistol terselip di pinggang – mungkin komandannya – ternyata sangat ramah. Pertama dia menanyakan saya dari Negara mana. Kemudian dengan keramahan yang wajar dia mengatakan bahwa jalan yang saya tempuh benar menuju ke tempat pertandingan panahan. Tapi jalan yang saya lewati tersebut ternyata jalan khusus untuk para atlet dan panitia serta pejabat lainnya.

Perwira itu kemudian meminta saya untuk kembali. “Anda kembali  keluar dan belok kiri. Sekitar 300 meter ada simpangan dan Anda ke kiri lagi. Sekitar 200 meter dari sana ada pintu masuk untuk umum” katanya.

Setelah minta maaf berkali-kali saya segera kembali. Tapi perwira yang baik itu kembali mengejar saya, untuk mengingatkan saya bahwa saya harus dua kali belok kiri.

Disebabkan keliru pintu masuk lokasi itulah yang membuat saya tiba di tempat pertandingan hanya beberapa menit sebelum pertandingan dimulai. Yang saya cemaskan pun muncul juga. Tempat duduk habis terisi. Padahal lebih dari itu, saya juga menginginkan tempat duduk tepat di belakang para pemanah putrid Indonesia.

Tapi dengan berbagai akal dan cara, akhinya saya dapat juga duduk agak di belakang para srikandi Indonesia. Antara panggung penonton dan atlet yang bertanding dibatasi pagar dengan jarak sekitar 30 meter.

Untuk menyaksikan pertandingan dengan cermat saya tak tanggung tanggung membawa perlengkapan. Selain membawa tele lensa, saya juga membawa telescopy yang sebelumnya saya beli di Pasar Myongdong dengan harga 7.000 won atau sekitar Rp 16.000. Dengan kedua alat itulah saya mengamati pertandingan.

Tepat pukul 10.45 anak panah para peserta mulai meleset dari busur masing-masing. (Bersambung)

            Untuk pertama kalinya, harian Pagi Manuntung, satu-satunya Koran pagi pertama di Kaltim memberangkatkan wartawannya ke luar negeri, dalam rangka meliputi pesta olahraga terbesar  dunia, Olimpiade Seoul. Wartawan yang diberangkatkan itu adalah Aan Reamur Gustam yang selama ini di kenal sebagai Redaktur  Pelaksana Harian Pagi Manuntung di Balikpapan.

            Aan, 38 tahun kemarin siang bertolak dari Bandar Udara Sepinggan Balikpapan menuju Bandar Udara Juanda Surabaya. Dari Surabaya, ia akan terus ke Jakarta untuk bergabung bersama beberapa wartawa Indonesia lainnya, yang seterusnya bertolak ke Seoul, Korea Selatan 9 September mendatang.

            Menurut rencana, Aan berada di Seoul selama lebih kurang tiga minggu, atau selama berlangsungnya peristiwa akbar Olimpiade yang dimulai dari 17 September – Oktober 1988, Selama itu pula, ia akan terus mengirim laporan khusus mengenal kegiatan pesta olahraga tersebut.

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!